June 30, 2022
NETTER > Blog > From Netters > 5 Perbedaan Bulan Ramadhan di Kuala Lumpur dengan di Jakarta
Di Malaysia pun juga ada tukang jualan dadakan tapi terpusat dan terorganisir dalam bazar Ramadhan. Jarang saya temui tukang jualan gorengan dadakan di pinggir jalan menjelang berbuka.
Spread the love

By: Destanti Gunawan

Bulan Ramadhan bulan yang paling dinantikan umat muslim di seluruh dunia. Walaupun sama-sama menjalankan puasa dari matahari terbit hingga matahari tenggelam, ternyata ada beberapa perbedaan budaya di beberapa negara selama bulan Ramadhan contohnya di Malaysia. Penulis yang berasal dari Indonesia tahun ini berkesempatan untuk merasakan berpuasa di Malaysia khsusnya Kuala Lumpur dan Selangor. Berikut beberapa perbedaan yang dirasakan penulis selama berpuasa di Kuala Lumpur, Malaysia.

  • Waktu sahur dan berbuka puasa

Perbedaan yang paling terasa adalah perbedaan waktu antara Indonesia dengan Malaysia. Malaysia satu jam lebih cepat dari pada Indonesia contohnya pukul 6 pagi waktu Malaysia sama dengan pukul 5 pagi waktu Indonesia. Bagi pelancong atau warga negara Indonesia yang baru saja pindah ke Malaysia pasti awalnya tidak terbiasa dengan perbedaan waktu ini. Di Indonesia kita biasanya berbuka puasa sekitar pukul 6 sore sedangkan di Malaysia hampir setengah 8. Waktu sholat pun otomatis berbeda dan terasa lebih lama kalau sudah lama tinggal di Indonesia. Biasanya kita selesai tarawih pukul 8, di Malaysia masih waktu maghrib. Selesai tarawih pun hingga larut malam sampai pukul 10 bahkan lebih tergantung khatibnya. Walaupun Malaysia termasuk negara yang aman, tapi tidak disarankan untuk pergi sendiri di malam hari terutama Wanita. Jadi kalau mau tarawih, jangan pergi sendirian dan kalau bisa ada lelaki yang menemani karena pulang tarawih bisa hingga tengah malam. Wanita disarankan tarawih di rumah atau di surau dekat rumah.

  • Di Bulan Ramadhan restoran di Malaysia tidak ditutup tirai

Di Indonesia ramai berita rumah makan dirazia selama bulan Ramdhan dan restoran harus menutup area makan mereka dengan tirai untuk menghormati mayoritas yang menjalankan ibadah puasa. Di Malaysia semua kedai makanan buka seperti biasa dan tidak perlu ditutup tirai terutama di mall. Namun, beberapa kedai tidak melayani Wanita muslim berkerudung walaupun mereka sedang tidak puasa karena sedang berhalangan. Dan layaknya restoran di Indonesia, selama bulan Ramadhan beberapa restoran di mall harus reservasi dulu dikarenkan banyaknya orang yang akan berbuka puasa diluar dengan teman atau rekan kerja. Malaysia dengan beragam etnis dan negara menciptakan atmosphere toleransi dengan sendirinya tanpa perlu stimulus atau paksaan untuk saling menghormati.

  • Perbedaan libur Nasional Ramadhan

Tahun 2022 adalah tahun dimana masyarakat muslim dengan Katolik dan Kristen merayakan hari suci di bulan yang sama yaitu Ramadhan dan Paskah di bulan April. Di Indonesia, Paskah yang jatuh pada tanggal 15 April 2022 masuk ke dalam hari libur nasional sedangkan di Malaysia tidak. Bagi pendatang dari Indonesia pasti akan sedikit terkejut karena di Malaysia perayaan paskah tidak dirayakan secara Nasional karena perbedaan mayoritas masyarakatnya. Di Malaysia selain muslim, mayoritas lainnya adalah warga Chinese budha dan India Hindu. Sehingga perayaan nasionalnya pun berbeda dengan di Indonesia. Namun, Malaysia memperingati Nuzulul Quran dan ditetapkan sebagai hari libur Nasional yang jatuh pada tanggal 19 April 2022. Jadi di bulan April setidaknya baik Indonesia maupun Malaysia sama-sama punya 1 hari libur Nasional.

  • Bazar Ramadhan yang lebih terorganisir

Ramadhan kurang komplit kalau tidak membahas tentang takjil. Berbagai macam jajanan pasar, makanan dan minuman yang dijual hanya selama bulan Ramdhan adalah salah satu agenda yang sangat dinantikan selama bulan puasa. Di Indonesia, selama bulan puasa kita akan menemukan berbagai macam tukang jualan dadakan di pinggir jalan mulai dari jualan gorengan, air kelapa, minuman manis, jajanan pasar, hingga makanan berat hanya dengan bermodalkan meja dan berjualan 2 jam menjelang berbuka puasa.

Di Malaysia pun juga ada tukang jualan dadakan tapi terpusat dan terorganisir dalam bazar Ramadhan. Jarang saya temui tukang jualan gorengan dadakan di pinggir jalan menjelang berbuka. Mayoritas mereka sudah terorganisir dalam bazar Ramadhan seperti Bazar Ramadhan Shah Alam, TTDI, kampung baru, bukit bintang dan area lainnya. Setiap penjual menggunakan tenda kecil dan menjalankan operasi sesuai dengan SOP dari pemerintah, tidak bisa sembarangan jadi tukan jualan gorengan dadakan. Masuk bazar Ramadhan pun tidak sembarangan, harus scan MySejahtera apps dan menggunakan masker, menerapkan social distancing dan teratur mengantri selama bazar berlangsung. Ada petugas yang berkeliling dan menjaga area keluar masuk bazar.

Banyak makanan bazar Ramadhan di Malaysia yang menarik seperti kue-kue tradisional ada tepung pelita, kue srikaya, pudding warna warni, lemang, tapai, nona manis, cucur udang (bakwan) dan masih banyak lagi. Minuman segar seperti air mata kucing (air buah kelengkeng), air tembikai (air semangka), teh tarik, es cincau, es cendol, dan sebagainya. Makanan arab pun banyak yang menggugah selera untuk berbuka seperti nasi biryani dengan kambing asap, kebab, falafel, snack khas Turki seperti baklava dan kunafe yang jarang ditemui di Indonesia. Bazar Ramadhan di Malaysia menyediakan berbagai macam makanan dari berbagai macam etnis yang wajib dicoba.

Di satu sisi, bazar ini memudahkan masyarakat karena lebih terpusat dan terorganisir, tapi disisi lain jadi menimbulkan kerumunan dan harus mengeluarkan ekstra tenaga dan waktu untuk pergi ke bazar. Sedangkan di Indonesia, cukup keluar gang komplek pasti ada saja yang berjualan takjil entah itu bubur sumsum, gorengan atau air kelapa. Lebih mudah dijumpai apalagi kalau sudah mepet waktu berbuka.

  • Sepi music bernuansa Ramadhan

Sebelumnya disclaimer, penulis berdomisili di Petaling Jaya, Selangor tapi terkadang pun masih suka jalan-jalan di area Kuala Lumpur. Mungkin akan berbeda di daerah lainnya di Malaysia. Dari beberapa mall atau pusat perbelanjaan yang penulis kunjungin, nuansa Ramadhannya tidak seheboh di Indonesia mulai dari dekorasi, lagu-lagu rohani seperti lagunya opick dan bimbo dan event-event Ramadhan yang sering kita jumpai di Indonesia. Hanya ada lambang-lambang atau symbol tema bulan Ramadhan. Bahkan kalaupun ada pusat perbelanjaan yang menyiarkan lagu Ramadhan, umumnya lagu-lagu Indonesia seperti lagu Opick – Tombo Ati, Ungu – sesungguhnya, Tompi – Ramadhan datang. Jarang saya temui lagu Ramadhan yang memang dinyanyikan oleh penyanyi Malaysia. Entah karena masih peralihan menuju masa endemic atau memang Ramdhan di Malaysia tidak seramai di Indonesia.

Di Indonesia, walaupun Mall nya sudah menyiarkan lagu rohani barnuansa Ramadhan, biasanya di masing-masing toko pun akan memainkan playlist music bernuansa Ramadhan mereka. Bahkan jika kita berjalan di sekitar masjid, perkampungan, lapangan, bazar atau tempat keramaian pasti ada yang menyiarkan lagu-lagu islami yang membuat atmosphere Ramadhan terasa bergema di setiap tempat.

Itulah 5 perbedaan yang penulis rasakan selama menjalankan ibadah puasa di negeri tetangga. Jangan berekspektasi nuansa Ramdhan nya akan seperti di series Upin-Ipin ya. Nuansa islami di Indonesia lebih tersebar merata dibandingkan di Malaysia. Tapi toleransi dan keharmonisan di Malaysia jauh lebih terasa sehingga berpuasa di negeri tetangga pun masih nyaman dan ibadah pun tanpa hambatan. Satu lagi nih yang beda, di Malaysia nggak ada cuti bersama kayak di Indonesia dari tanggal 29 April sampe 6 May 2022. Tapi biasanya mereka sukarela potong jatah cuti tahunan untuk balik kampung atau mudik. Jadi warga Indonesia patut bersyukur ya ada cuti bersama. Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Destanti Gunawan

Instagram : @destanti

Baca juga:

24 masjid megah & contoh arsitektur Islam di Asia Tengah

INI KEINDAHAN LANGIT LANGIT MASJID DI SELURUH DUNIA

5 Perbedaan Bulan Ramadhan di Kuala Lumpur dengan di Jakarta

Muḥyī al-Dīn Maghribī astronom dan matematikawan Muslim dari Andalusia (Spanyol)