May 19, 2022
NETTER > Blog > Stories > Ratu Pramodhawardhani yang melahirkan Candi Prambanan dan Candi Borobudur
Pramodhawardani mengizinkan sang suami untuk membangun candi-candi Hindu di wilayah kekuasaan mereka. Salah satu yang terakbar, berdasarkan ciri-ciri dalam prasasti Siwargrha (856 M), adalah Candi Prambanan.
Spread the love

Pramodhawardani: Cinta yang Melahirkan Candi-candi Raya

Ada suatu masa di tanah Jawa, saat candi-candi terakbar dibangun. Dan toleransi antar umat beragama mencapai salah satu wujud terbaiknya. Pada tahun 840 Masehi, di bumi Mataram kuno, seorang ratu menyatukan dua wangsa besar dan menghadiahi kita Candi Borobudur, Candi Prambanan, serta candi-candi monumental lainnya.

Indonesia Kira-kira bersamaan dengan naiknya Pramodawardhani sebagai permaisuri Kerajaan Medang, Bangsa Viking dari Norwegia merebut Dublin dan mendirikan kerajaan Nordik di Irlandia.

Pada hari itu, sebuah berita menggegerkan seisi istana. Maharaja Samaratungga, yang telah memerintah selama 43 tahun, memutuskan mundur dari jabatannya. Raja kelima Medang itu menunjuk putrinya, Pramodhawardani, sebagai pewaris takhta. Keputusan itu menyulut pergolakan besar, karena ada seseorang yang tidak terima dan merasa dirinya lebih berhak atas takhta Samaratungga.

Balaputradewa, saudara Pramodhawardani, menderapkan pasukan untuk membangun benteng pertahanan di atas bukit, siap melancarkan pemberontakan. Tak lama kemudian, pecahlah perang saudara untuk memperebutkan takhta kerajaan terbesar di Jawadwipa pada masa itu, antara Balaputradewa dengan Pramodhawardhani, yang dibantu suaminya, Rakai Pikatan.

Perang itu berujung dengan kekalahan Balaputradewa, dan ia pun menyingkir ke Sumatra untuk menjadi raja Sriwijaya. Adalah De Casparis (ahli prasasti Indonesia berkebangsaan Belanda), yang mengembangkan teori populer yang kita simak dalam kisah tadi. Menurut analisisnya, Samaragrawira, yakni ayah dari Balaputradewa, adalah orang yang sama dengan Samaratungga, ayah dari Pramodawardhani. Sehingga Balaputradewa dan Pramodawardhani adalah saudara dan sama-sama berhak menjadi pewaris takhta Medang.

Perang saudara dalam kisah tadi didasarkan pada prasasti Wantil (856 M), yang merekam peperangan antara Rakai Pikatan dengan pemberontak yang bersembunyi di benteng dari timbunan batu. Nah, dalam prasasti tersebut ditemukan istilah Walaputra, yang menurut De Casparis adalah nama lain dari Balaputradewa. Diperkirakan juga bahwa di Situs Ratu Boko-lah perang tersebut berkecamuk. Namun, teori itu dibantah oleh sejarawan Indonesia.

Dalam prasasti Kayumwungan (824 M), (Sejarawan) Slamet Muljana mendapati bahwa Pramodawardhani adalah anak tunggal Samaratungga. Jadi, Samaragrawira bukanlah Samaratungga. Justru lebih pas jika Samaragrawira adalah ayah Samaratungga, yakni raja keempat Medang yang bergelar Rakai Warak. Bisa jadi putra sulung Samaragrawira adalah Samaratungga, sedangkan Balaputradewa putra bungsunya. Jadi, Balaputradewa bukan saudara Pramodawardhani, melainkan pamannya. Selain itu, Boechari (pakar epigrafi dan sejarah kuno) juga menemukan sejumlah prasasti di sekitar situs Ratu Boko, tetapi bukan atas nama Balaputradewa, melainkan Rakai Walaing, yang mengaku sebagai keturunan Sanjaya, pendiri kerajaan Medang. Jadi, musuh yang Rakai Pikatan perangi dalam prasasti Wantil bukanlah Balaputradewa, melainkan Rakai Walaing.

Istilah Walaputra dalam prasasti tersebut juga tidak menunjuk pada Balaputradewa, tetapi pada sang “anak bungsu”, Alias Rakai Kayuwangi, putra bungsu Rakai Pikatan yang sukses menumpas musuh ayahnya. Maka teori De Casparis bahwa Balaputradewa menyingkir ke Sumatra karena terdesak oleh Rakai Pikatan mungkin keliru. Bisa jadi Balaputradewa meninggalkan Jawa karena sejak awal ia memang tidak berhak atas takhta Jawa.

Nah, pada masa itu, dipercaya Wangsa Syailendra memiliki pengaruh yang kuat atas pulau Jawa dan Sumatra, Sebagaimana terekam dalam prasasti Ligor (775 M) tentang Maharaja Wisnu, seorang raja dari Wangsa Sailendra yang dijuluki pembunuh musuh-musuh. Ada yang menduga bahwa pada masa itu telah terjalin aliansi yang erat antara dinasti Syailendra dengan Sriwijaya Namun ada juga yang berpandangan bahwa pada masa itu, dinasti Syailendra telah berhasil menaklukkan Sriwijaya. Yang pasti, sebagai anggota Wangsa Sailendra, Balaputradewa pun menjadi raja Sriwijaya pada 860 M (Prasasti Nalanda), sebagaimana Samaratungga menjadi raja di tanah Jawa.

Terlepas dari teori manakah yang benar seputar relasi antara Samaratungga, Pramodawardhani, dan Balaputradewa, Sejarah mencatat dengan tegas bahwa Pramodhawardhani, sang putri mahkota, telah dipersunting oleh Rakai Pikatan. Pernikahan inilah yang kemudian menghadirkan perubahan-perubahan besar dalam era Medang di Jawa Tengah, yang masih bisa dirasakan hingga hari ini. Uniknya, pasangan ini berasal dari dua dinasti beda agama yang bersaing di Jawa pada masa itu. Pramodhawardhani, putri mahkota dari wangsa Syailendra, adalah penganut Buddha Mahayana, sedangkan Rakai Pikatan adalah pangeran dari wangsa Sanjaya yang memeluk Hindu Siwa. Sanjaya sendiri, yakni pendiri Kerajaan Medang atau Mataram Kuno, adalah cicit Ratu Shima dari Kalingga.

Maka tidak mengherankan, bila perkawinan Pramodhawardhani dengan Rakai Pikatan Digadang-gadang sebagai momen penyatuan dua wangsa tersebut. Pernikahan pasangan ini juga membawa beberapa implikasi lainnya:

  • Pertama, meski sejatinya Pramodhawardani adalah penerus takhta, ia menyerahkan haknya kepada sang suami. Dan sebagaimana tercatat dalam prasasti Mantyasih (907 M), Rakai Pikatan menjadi raja keenam Kerajaan Medang dengan gelar Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku. Sedangkan Pramodhawardani menjadi permaisuri, yang mendampingi suaminya dalam memerintah.
  • Kedua, pernikahan Pramodawardhani dan Rakai Pikatan dikaruniai dua putra, yakni Rakai Gurunwangi Dyah Saladu (prasasti Plaosan) dan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (prasasti Wantil). Si bungsu, Rakai Kayuwangi, lalu dinobatkan sebagai raja berikutnya karena jasanya menumpas pemberontak dalam perang.
  • Ketiga, pernikahan Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan yang berbeda agama, Semakin menyuburkan toleransi beragama antara pemeluk Hindu dan Buddha pada masa itu. Di awal abad ke-7, agama Buddha lebih dominan di tanah Jawa, terlihat dari megahnya Candi Borobudur di Magelang, yang dibangun pada era Samaratungga dan diresmikan oleh Pramodhawardani pada tahun 824 M. Namun, Pramodhawardani mengizinkan sang suami untuk membangun candi-candi Hindu di wilayah kekuasaan mereka. Salah satu yang terakbar, berdasarkan ciri-ciri dalam prasasti Siwargrha (856 M), adalah Candi Prambanan. Rakai Pikatan-lah yang mendirikan Candi Siwa, bangunan utama di kompleks Candi Prambanan, sedangkan candi-candi lainnya dibangun oleh raja-raja sesudahnya. Agak mirip dengan Candi Penataran, kompleks candi terbesar di Jawa Timur yang dibangun oleh lima raja Jawa.

Nah, Rakai Pikatan pun turut membantu mendirikan candi-candi Buddha. Termasuk, yang paling terkenal, kompleks Candi Plaosan di dekat Prambanan, Tepatnya di perbatasan antara Yogyakarta dan Kabupaten Klaten. Kompleks Candi Plaosan, yang dibangun pada tahun 842 M, terdiri atas dua candi, yakni Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul, dengan gaya arsitektur yang memadukan corak Buddha dan Hindu. Bahkan, diduga candi-candi di Plaosan ini didirikan secara gotong-royong antara para penganut Buddha dengan para penganut Hindu. Betapa kompak dan damai, ya, hubungan antar pemeluk dua agama itu di bawah naungan Pramodhawardani, sang ratu Mataram kuno.

Namun, tentu saja, tiada gading yang tak retak. Terutama ketika kita membahas kerajaan nusantara dan intrik-intrik politik yang mungkin ikut bermain di dalamnya. Ada sebagian pihak yang curiga bahwa Rakai Pikatan mungkin memiliki agenda tersembunyi saat menikahi Pramodhawardhani. Bahwa ia sesungguhnya berniat menumpas kekuasaan dinasti Sailendra, Dan memperluas pengaruh wangsa Sanjaya. Salah satunya dengan memindahkan pusat pemerintahan, yang semula di Mataram (sekitar Yogyakarta), ke Mamrati di Kedu, dekat Temanggung. Ada pula sejarawan yang menganggap Prambanan sengaja dibangunnya untuk menandingi Borobudur, sekaligus sebagai monumen yang merayakan bangkitnya kembali Dinasti Sanjaya.

Kapan tepatnya Pramodhawardani tutup usia, belum diketahui secara pasti. Namun, prasasti Wantil mencatat bahwa Rakai Pikatan turun takhta dan menjadi brahmana pada tahun 856 M.

Selepas era Pramodhawardani dan Rakai Pikatan, Kerajaan Medang diwarnai banyak pemberontakan Dan 73 tahun setelah Rakai Pikatan turun takhta, era Kerajaan Medang di Jawa Tengah pun berakhir ketika Dyah Wawa digantikan sang menantu, Mpu Sindok, Yang lantaran amukan dahsyat Gunung Merapi, lalu memindah pusat Kerajaan Medang ke Jawa timur.

Pemindahan kekuasaan politik ini juga turut diabadikan secara simbolis dalam Kisah Pemindahan Gunung Mahameru pada Kitab Tantu Pagelaran.

Mpu Sindok pun mendeklarasikan berdirinya dinasti baru bernama Isyana, Yang menutup riwayat Wangsa Sanjaya dan Syailendra di Jawa Tengah, Sekaligus menggelar babak baru dari kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur, hingga ke era Majapahit.

Terlepas dari valid-tidaknya berbagai kecurigaan mengenai motif Rakai Pikatan dalam pernikahannya dengan Pramodawardhani, Tak bisa dipungkiri bahwa pernikahan mereka meninggalkan warisan yang berharga bagi kita di masa kini. Ada monumen-monumen megah yang menjadi kebanggaan Indonesia, seperti Candi Borobudur, Prambanan, Plaosan, dan lain sebagainya. Ada pula teladan toleransi yang kokoh antar pemeluk agama Hindu dan Buddha pada masa itu, yang seolah tersimbolkan juga dalam pernikahan Pramodawardhani dengan Rakai Pikatan. Bahkan, bisa dibilang Pramodhawardhani adalah ratu pertama dalam sejarah Indonesia yang menikah lintas agama.

Hampir empat abad kemudian barulah Kitab Pararaton mengenalkan kita pada Ken Dedes, seorang perempuan penganut Buddha, yang dipersunting oleh Ken Arok, Raja Singhasari penganut Hindu Siwa. Mungkin penyatuan itulah awal mula dari sinkretisme Hindu Siwa dan Buddha, Sebuah tema yang sangat kental dalam candi-candi era Singosari hingga ke masa Majapahit, misalnya di Candi Jawi.

Dalam penyatuan Ken Arok dan Ken Dedes, kepercayaan Hindu Siwa dan Buddha melebur serta membentuk sintesa yang baru. Namun, dalam penyatuan Pramodawardhani dengan Rakai Pikatan, kepercayaan Hindu Siwa dan Buddha tetap pada bentuk aslinya. Mereka tidak perlu berubah, juga tidak perlu melebur. Namun keduanya diikat dan disatukan oleh sikap saling menghargai antara satu dengan yang lain serta gotong royong yang guyub. Semata-mata demi merayakan perbedaan itu sendiri. Dan, mungkin, mungkin saja… inilah bentuk toleransi yang paling tepat untuk kita tumbuhkan di negeri ini mulai hari ini dan mulai dari diri masing-masing. Demi Indonesia yang jaya, dan kebaikan bagi semua.

Sumber ASISI CHANNEL

Baca Juga: